Bambang Kurniawan
Sekilassultra.com, Buton Utara – Ditengah harapan besar masyarakat terhadap kemajuan daerah, isu hilirisasi industri aspal di Karawang, justru seolah-olah tenggelam tanpa gaung dari para wakil rakyat di pusat. Padahal, potensi aspal Buton telah lama dikenal sebagai salah satu kekayaan strategis nasional yang seharusnya menjadi perhatian serius dalam pembangunan industri dalam negeri.
Salah satu masyarakat asal Buton Utara, Bambang Kurniawan angkat bicara dengan nada tegas namun penuh kekecewaan, ia mempertanyakan sikap para wakil rakyat yang dinilai “Bisu” terhadap persoalan ini.
“Ketika kami di daerah berharap ada dorongan kuat dari pusat, justru yang kami lihat adalah keheningan. Mereka duduk di kursi empuk, tapi suara rakyat seakan tidak tersampaikan,” ujar Bambang.
Sorotan pun mengarah kepada enam anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara, yaitu: Rusda Mahmud (Partai Demokrat), Jaelani (PKB), Ahmad Safei (PDI Perjuangan), Bahtra (Partai Gerindra), Ali Mazi (Partai NasDem) dan Ridwan BAE (Partai Golkar).
Keenam nama tersebut dinilai belum menunjukkan sikap tegas atau langkah konkret dalam memperjuangkan hilirisasi aspal Buton, khususnya di wilayah Karawang.
Hal serupa juga diarahkan kepada empat anggota DPD RI perwakilan Sulawesi Tenggara, yakni La Ode Umar Bonte, Dewa Putu Ardika Seputra, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan, Amirul Tamim Sebagai representasi daerah, mereka diharapkan mampu menjadi corong aspirasi masyarakat, terutama dalam isu strategis yang menyangkut masa depan ekonomi lokal.
Hilirisasi industri aspal bukan sekadar wacana. Ia adalah peluang nyata untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, membuka lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian industri nasional. Namun, tanpa dorongan politik yang kuat, gagasan ini berpotensi hanya menjadi janji tanpa realisasi.
Masyarakat kepulauan Buton kini menanti. Bukan sekadar janji, tetapi keberanian sikap dan tindakan nyata dari para wakil rakyat yang telah mereka percayakan. Dalam diamnya para elit, suara rakyat justru semakin nyaring – menuntut keadilan, perhatian, dan keberpihakan.







