Ayah Yang Tak Pernah Pulang Kepada Dirinya 

-

19 Views

Penulis: La Jamilu

Guru MIN 1 Tuban/Pegiat Literasi

TUBAN, SEKILASSULTRA.COM – Ayah sering menjadi orang pertama yang terjaga ketika rumah masih dipeluk gelap, sekaligus orang terakhir yang memejamkan mata setelah memastikan keluarganya baik-baik saja. Namun, anehnya, namanya kerap disebut paling akhir ketika kebahagiaan dibicarakan. Ia seperti akar pohon: tersembunyi di dalam tanah, kotor oleh lumpur, tetapi diam-diam menahan seluruh batang agar tidak tumbang.

 

Jika ditanya apa yang paling diinginkan seorang ayah, jawabannya belum tentu rumah megah, kendaraan mewah, atau rekening yang gemuk. Banyak ayah hanya ingin melihat anak-anaknya tumbuh sehat, hidup rukun, saling menyayangi, dan menjadi manusia yang bermanfaat. Keinginannya sederhana, tetapi untuk mewujudkannya ia harus bertarung dengan dunia yang semakin pandai memasang harga pada segala sesuatu.

 

Sejak seorang anak lahir, sebagian ayah seperti mematikan tombol ego di dalam dirinya. Ia mulai berhenti bertanya, “Apa yang aku inginkan?” lalu menggantinya dengan pertanyaan, “Apa yang dibutuhkan keluargaku?”

 

Sayangnya, pertanyaan kedua itu sering berlangsung seumur hidup, hingga sang ayah lupa bahwa dirinya juga manusia yang dapat lelah, kecewa, takut, bahkan terluka.

 

Ayah pada Masa Lalu

Pada masa lalu, ayah-ayah kita tidak banyak mengenal bahasa kasih sayang yang berbunga-bunga. Mereka jarang mengucapkan cinta, tetapi tangan mereka fasih menerjemahkannya.

 

Cinta mereka menjelma cangkul yang diayunkan di sawah, jala yang dilemparkan ke laut, becak yang dikayuh di tengah terik, atau sepeda tua yang membawa pulang beras dan minyak tanah. Punggung mereka adalah halaman tempat kehidupan menulis cerita dengan tinta keringat.

 

Mereka tidak pandai membuat unggahan tentang perjuangan. Tidak ada kamera yang merekam langkah kaki mereka menuju ladang ketika ayam bahkan belum berkokok. Tidak ada tanda suka untuk celana mereka yang basah oleh hujan. Tidak ada kolom komentar yang memuji telapak tangan mereka yang pecah-pecah.

 

Namun, dari tangan kasar itulah lahir anak-anak yang kemudian mengenal sekolah, membaca buku, memakai sepatu, dan bercita-cita melampaui batas kampungnya.

 

Ayah zaman dahulu sering tampak keras. Suaranya kadang seperti pintu kayu yang dibanting angin. Tatapannya membuat anak segera merapikan duduk. Akan tetapi, di balik ketegasan itu, ada kecemasan yang tidak pandai mencari jalan keluar.

 

Ia takut anaknya salah melangkah. Ia takut kemiskinan diwariskan. Ia takut keluarganya dipermainkan keadaan. Karena tidak mengenal banyak kata untuk menyatakan cinta, ia menyamarkan kasih sayang menjadi aturan, nasihat, dan sesekali kemarahan.

 

Kita baru memahami bahasa itu setelah dewasa. Kita baru sadar bahwa pertanyaan pendek, “Sudah makan?” sebenarnya berarti, “Ayah mencintaimu, tetapi lidah Ayah tidak terlatih mengatakannya.”

 

Ayah di Tengah Indonesia Hari Ini

Kini zaman telah berubah. Sawah-sawah menyusut, gedung-gedung meninggi, dan telepon genggam semakin pintar. Namun, kehidupan belum tentu menjadi lebih bijaksana.

 

Di Indonesia hari ini, banyak ayah berangkat bekerja ketika anaknya masih tidur dan pulang ketika anaknya sudah kembali terlelap. Mereka tinggal di rumah yang sama, tetapi dipisahkan oleh waktu. Atapnya berdekatan, tetapi percakapannya berjauhan.

 

Sebagian ayah menjadi pekerja pabrik yang mengejar target. Sebagian menjadi pengemudi di jalanan yang macet. Sebagian menjadi petani yang harga panennya ditentukan oleh orang-orang yang tidak pernah menyentuh tanah. Sebagian menjadi nelayan yang harus berdamai dengan ombak, cuaca, dan harga bahan bakar. Sebagian lagi menjadi guru honorer yang mengajarkan masa depan bangsa sambil mencemaskan masa depan keluarganya sendiri.

 

Negeri ini sering memuji keluarga sebagai tiang bangsa, tetapi kadang lupa memperkuat tanah tempat tiang itu berdiri. Harga kebutuhan pokok berlari seperti kuda liar, sementara penghasilan banyak keluarga berjalan tertatih dengan sandal tipis. Biaya pendidikan menanjak, biaya kesehatan mengintip dari tikungan, dan lapangan pekerjaan terasa seperti pintu sempit yang diperebutkan jutaan tangan.

 

Di layar televisi, kemakmuran dipidatokan dengan suara lantang. Di meja makan rakyat, seorang ayah diam-diam menghitung apakah uang yang tersisa cukup hingga akhir bulan. Angka-angka pertumbuhan ekonomi boleh tampak menawan di atas kertas, tetapi seorang anak tidak dapat menyantap statistik ketika beras di dapur habis.

 

Ironisnya, masyarakat juga sering mengukur keberhasilan seorang ayah dari banyaknya benda yang mampu ia bawa pulang. Rumah besar dianggap bukti cinta. Kendaraan baru disebut keberhasilan. Pakaian bermerek dijadikan ukuran harga diri.

 

Kita hidup pada zaman ketika kemasan lebih mudah dipercaya daripada isi. Ayah yang pulang membawa mainan dipuji, tetapi ayah yang pulang membawa waktu sering dianggap biasa. Padahal, mainan dapat rusak dalam beberapa hari, sedangkan kenangan bersama ayah dapat tinggal puluhan tahun di dalam jiwa.

 

Lebih menyedihkan lagi, media sosial telah menjadi pasar perbandingan. Satu keluarga memamerkan liburan, keluarga lain mulai merasa kekurangan. Seorang anak melihat kemewahan temannya, lalu bertanya mengapa ayahnya tidak mampu memberikan hal yang sama.

 

Pertanyaan itu mungkin terlontar ringan, tetapi dapat jatuh seperti batu ke dalam dada seorang ayah.

 

Anak sering hanya melihat apa yang tidak dibawa pulang oleh ayah. Ia tidak melihat makan siang yang sengaja dilewatkan, pakaian yang bertahun-tahun tidak diganti, keinginan yang dipendam, atau rasa malu ketika harus meminjam uang demi membayar kebutuhan sekolah.

 

Ayah pun memiliki keinginan. Ia ingin beristirahat, membeli sesuatu untuk dirinya, bertemu teman lama, atau sekadar duduk tanpa memikirkan tagihan. Namun, setiap keinginan itu muncul, wajah anak-anaknya berdiri seperti penjaga di pintu hati. Akhirnya, ia kembali mengalah.

 

Begitulah ego seorang ayah dikuburkan sedikit demi sedikit, sering tanpa upacara dan tanpa nisan.

 

Ketika Rumah Kehilangan Percakapan

Tantangan seorang ayah hari ini bukan hanya mencari nafkah. Ia juga harus berjuang agar tidak kehilangan keluarganya di tengah rumahnya sendiri.

 

Teknologi mendekatkan orang yang jauh, tetapi kadang menjauhkan orang yang duduk satu meja. Ayah menatap layar karena pekerjaan. Ibu sibuk dengan urusan rumah dan dunianya. Anak tenggelam dalam permainan, video pendek, serta percakapan maya. Ruang keluarga berubah menjadi stasiun: semua singgah, tetapi tidak benar-benar bertemu.

 

Rumah yang besar belum tentu luas bagi kasih sayang. Kadang rumah sederhana yang dipenuhi percakapan jauh lebih lapang daripada bangunan mewah yang penghuninya saling membisu.

 

Ayah perlu menyadari bahwa tugasnya bukan semata-mata menyediakan makanan, pakaian, dan pendidikan. Anak juga membutuhkan kehadirannya. Bukan hanya tubuh yang duduk di ruang tamu, melainkan telinga yang mau mendengar, mata yang memperhatikan, dan hati yang tidak cepat menghakimi.

 

Sebaliknya, anak-anak pun harus belajar bahwa ayah bukan mesin pencetak uang. Ayah tidak selalu kuat. Diamnya bukan berarti tidak memiliki masalah. Tawanya tidak membuktikan bahwa hidupnya tanpa luka.

 

Ada ayah yang menyimpan kecemasan di balik gurauan. Ada yang menyembunyikan kegagalan agar keluarganya tidak takut. Ada pula yang menangis di tempat sepi, lalu mencuci wajah sebelum membuka pintu rumah.

 

Masyarakat mengajarkan laki-laki agar jangan menangis, seolah air mata dapat membatalkan tanggung jawab. Padahal, gunung pun mengeluarkan mata air. Langit yang luas pun sesekali menurunkan hujan. Mengapa seorang ayah harus terus berpura-pura menjadi batu?

 

Ayah dan Masa Depan Bangsa

Pada masa yang akan datang, pekerjaan mungkin semakin banyak digantikan mesin. Kecerdasan buatan akan membantu manusia menyelesaikan berbagai urusan. Rumah semakin canggih, kendaraan semakin cepat, dan komunikasi semakin mudah.

 

Namun, tidak ada mesin yang mampu menggantikan pelukan seorang ayah ketika anaknya gagal. Tidak ada aplikasi yang benar-benar dapat menggantikan nasihat yang lahir dari pengalaman. Tidak ada kecerdasan buatan yang dapat meniru sepenuhnya getaran suara ayah ketika menyebut nama anaknya dalam doa.

 

Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh gedung tinggi, jalan tol, teknologi, atau angka pertumbuhan. Masa depan bangsa tumbuh di ruang-ruang makan sederhana, ketika ayah mengajarkan kejujuran meskipun dunia menawarkan jalan pintas.

 

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering hilang adalah rasa malu ketika berbuat curang. Kita memiliki banyak gelar, tetapi masih mudah tergoda menukar amanah dengan kepentingan. Korupsi tumbuh bukan karena pelakunya tidak berpendidikan, melainkan karena kecerdasan berjalan tanpa dituntun nurani.

 

Di sinilah peran seorang ayah menjadi penting. Jangan hanya bertanya kepada anak, “Berapa nilaimu?” Tanyakan pula, “Apakah hari ini kamu berkata jujur? Apakah kamu menolong orang lain? Apakah kehadiranmu membuat lingkungan menjadi lebih baik?”

 

Nilai tinggi dapat membuka pintu pekerjaan, tetapi watak baik akan menentukan apa yang dilakukan seseorang setelah pintu itu terbuka.

 

Ayah perlu mendidik anak agar tidak menjadi generasi yang hanya ingin terlihat sukses, tetapi enggan menjalani proses. Jangan biarkan mereka tumbuh menjadi manusia yang sibuk membangun citra, tetapi membiarkan karakter runtuh. Ajarkan bahwa kesuksesan bukan tentang berdiri lebih tinggi untuk merendahkan orang lain, melainkan memiliki kemampuan untuk mengangkat mereka yang tertinggal.

 

Jika seorang ayah mewariskan rumah, rumah itu dapat dijual. Jika ia mewariskan uang, uang itu dapat habis. Namun, jika ia mewariskan kejujuran, keberanian, iman, kasih sayang, dan kepedulian, warisan itu dapat menjaga anak bahkan ketika ayah telah tiada.

 

Sebelum Terlambat

Kepada anak-anak yang ayahnya masih hidup, jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Jangan hanya menelepon ketika membutuhkan uang. Jangan menunggu rambutnya memutih seluruhnya untuk menyadari bahwa waktu sedang mengambilnya perlahan-lahan.

 

Duduklah bersamanya. Dengarkan cerita yang mungkin pernah ia ulang berkali-kali. Tanyakan kesehatannya. Peluklah ia meskipun terasa canggung. Sebab, akan datang hari ketika kita rela menukar apa pun hanya untuk mendengar sekali lagi suaranya memanggil nama kita.

 

Kepada para ayah, jangan mengukur keberhasilan hanya dari seberapa banyak harta yang dapat diberikan. Anak-anak memang membutuhkan nafkah, tetapi mereka juga membutuhkan kenangan. Pulanglah bukan hanya dengan tubuh, melainkan juga dengan perhatian. Minta maaflah jika keliru. Katakan sayang sebelum lidah menjadi kelu. Peluk anak sebelum tangan menjadi lemah.

 

Dan kepada bangsa ini, sudah saatnya kita berhenti memuja kemewahan sambil menutup mata terhadap perjuangan keluarga-keluarga sederhana. Negara yang besar bukan negara yang hanya pandai membangun beton, melainkan negara yang menjaga agar para ayah dapat bekerja dengan layak, para ibu hidup dengan aman, dan anak-anak tumbuh tanpa kehilangan harapan.

 

Pada akhirnya, kebahagiaan seorang ayah sering kali tidak rumit. Ia hanya ingin melihat keluarganya sehat, rukun, saling menyayangi, dan menjadi orang yang berguna. Ia tidak meminta namanya diukir pada monumen. Cukuplah namanya tetap hidup dalam doa dan akhlak anak-anaknya.

 

Ayah adalah rumah yang kadang lupa kita kunjungi, padahal di sanalah doa-doa kita pertama kali dinyalakan.

Maka, jika hari ini ayah masih ada, pulanglah kepadanya. Jika ia jauh, hubungilah. Jika ia telah tiada, kirimkan doa terbaik. Sebab, di balik langkah kita yang tampak gagah, ada seorang ayah yang pernah berjalan tertatih agar jalan di depan kita menjadi lebih mudah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Scroll to Top