Penulis: La Jamilu
Guru MIN 1 Tuban/Pegiat Literasi
Tuban, Sekilassultra.com – Nak, jika suatu hari kau melihat hidup bapak penuh kekurangan, jangan jadikan itu alasan untuk menyerah. Jadikanlah ia buku tua yang sampulnya kusam, tetapi menyimpan pelajaran agar langkahmu lebih kuat dan perjalananmu lebih jauh. Bapak mungkin tidak mampu memberikan semua yang kau inginkan, tetapi di balik setiap lelah, ada doa yang tidak pernah putus mengalir menuju langit.
Negeri ini pernah dibesarkan oleh orang-orang yang hidupnya sederhana, tetapi cita-citanya melampaui cakrawala. Mereka berjalan tanpa alas kaki, menembus hutan, mengarungi lautan, dan melawan ketakutan demi meninggalkan sebuah rumah besar bernama Indonesia. Mereka tidak bertanya berapa upah perjuangan, tidak pula menghitung keuntungan dari setiap tetes keringat. Bagi mereka, kemerdekaan bukan barang dagangan yang bisa ditukar dengan jabatan.
Dahulu, bambu runcing berani menantang senapan. Kini, pena sering takut kepada kekuasaan, suara kebenaran kadang kalah oleh bunyi notifikasi, dan keberanian mudah disimpan ketika kepentingan datang mengetuk pintu. Sejarah pun berdiri di sudut kelas, menatap sedih anak-anak yang hafal tanggal peperangan, tetapi belum memahami mengapa kejujuran harus diperjuangkan.
Nak, zaman telah berubah. Jalan-jalan semakin lebar, gedung-gedung semakin tinggi, dan teknologi berlari lebih cepat daripada kaki manusia. Namun anehnya, hati sebagian orang justru semakin sempit. Ada yang mampu berbicara dengan manusia di seberang dunia, tetapi tidak sempat menyapa tetangga di sebelah rumah. Ada yang memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi kehilangan arah ketika berjalan sendirian.
Kemajuan memang telah membawa banyak cahaya, tetapi jangan lupa, cahaya yang terlalu terang juga dapat menyilaukan mata. Telepon pintar membuat manusia mudah memperoleh pengetahuan, sekaligus mudah menyebarkan kebodohan. Jari-jari menjadi begitu berani menuduh, menghina, dan menghakimi, sementara mulut kehilangan keberanian untuk meminta maaf. Kebohongan memakai pakaian yang indah, berjalan di karpet merah, lalu disambut tepuk tangan karena lebih menarik daripada kebenaran yang datang dengan baju sederhana.
Di negeri ini, kejujuran kadang seperti tamu yang tidak diundang. Ia datang membawa cermin, sedangkan banyak orang lebih menyukai tirai. Korupsi terus tersenyum dari balik meja, seolah uang rakyat hanyalah hidangan yang boleh disantap bersama keluarga dan kawan-kawan. Hukum terkadang tampak gagah ketika mengejar rakyat kecil, tetapi mendadak terbatuk-batuk saat berhadapan dengan orang yang memiliki kuasa.
Kita pun sering sibuk memoles wajah negeri, sementara luka di tubuhnya dibiarkan bernanah. Kita bangga membangun menara, tetapi lupa memperkuat watak manusia yang tinggal di bawahnya. Kita berbicara panjang tentang pendidikan, tetapi masih ada guru yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita memuji generasi muda sebagai masa depan bangsa, tetapi kadang hanya memberi mereka panggung tanpa teladan.
Anakku, jangan membenci negerimu hanya karena melihat keburukan itu. Indonesia bukan hanya milik orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan. Indonesia juga berada dalam tangan petani yang menanam padi, nelayan yang menantang ombak, pedagang kecil yang membuka lapak sebelum matahari terbit, serta guru yang menyalakan pelita pengetahuan meskipun dirinya kerap berada dalam keterbatasan.
Negeri ini adalah rumah kita. Jika atapnya bocor, jangan membakarnya. Ambillah tangga, naiklah, lalu perbaikilah. Jika lantainya kotor, jangan pergi sambil mencaci. Ambillah sapu dan mulailah membersihkan, meskipun orang lain hanya berdiri sambil menonton. Perubahan tidak selalu lahir dari pidato besar. Kadang ia tumbuh dari keberanian kecil untuk tetap jujur ketika kebohongan dianggap biasa.
Bapak tidak berharap kau menjadi manusia yang hanya mengejar kekayaan. Uang memang dapat membeli rumah, tetapi tidak selalu mampu menghadirkan ketenteraman. Uang dapat membeli tempat tidur, tetapi tidak menjamin lelap. Ia dapat membeli pujian, tetapi tidak bisa memaksa lahirnya penghormatan. Jadilah manusia yang cukup kuat untuk memiliki harta tanpa dimiliki oleh harta.
Belajarlah setinggi mungkin, tetapi jangan gunakan ilmumu sebagai tangga untuk menginjak kepala orang lain. Ilmu seharusnya menjadi jendela yang membuatmu melihat penderitaan sesama, bukan tembok yang menjauhkanmu dari mereka. Semakin tinggi pendidikanmu, seharusnya semakin rendah hatimu. Padi yang berisi akan merunduk, sedangkan tong kosonglah yang paling gemar membuat keributan.
Kelak, masa depan mungkin menghadirkan dunia yang lebih menakjubkan. Mesin-mesin akan semakin pandai, kendaraan dapat melaju tanpa pengemudi, dan pekerjaan manusia mungkin digantikan oleh kecerdasan buatan. Namun secanggih apa pun teknologi, ia tidak boleh mengambil alih nuranimu. Mesin bisa menghitung keuntungan, tetapi tidak memahami air mata. Ia dapat meniru kata-kata kasih sayang, tetapi tidak mampu merasakan pengorbanan.
Karena itu, jangan hanya mempersiapkan diri menjadi manusia yang pintar. Jadilah manusia yang tetap memiliki hati. Masa depan Indonesia tidak kekurangan orang cerdas, tetapi dapat runtuh jika kekurangan orang yang jujur. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu menciptakan teknologi, melainkan juga generasi yang tahu untuk siapa teknologi itu digunakan.
Mungkin kelak kau akan hidup pada zaman ketika hutan hanya dapat dilihat dalam rekaman, sungai kehilangan kejernihannya, dan udara bersih menjadi barang mahal. Alam telah lama berbisik, tetapi manusia terlalu sibuk menghitung keuntungan. Gunung-gunung dikeruk, hutan ditelanjangi, dan laut dijejali sampah. Ketika banjir datang, manusia menyebutnya bencana alam, seolah alam sendirilah yang bersalah.
Jangan ikut mewariskan keserakahan itu. Perlakukan bumi seperti ibu yang telah memberimu kehidupan. Tanamlah pohon meskipun kau mungkin tidak sempat berteduh di bawahnya. Jagalah air meskipun sumurmu masih penuh. Masa depan bukan hanya tentang apa yang dapat kita bangun, tetapi juga tentang apa yang masih kita sisakan untuk anak cucu.
Nak, perjalananmu pasti tidak selalu mudah. Akan ada saat ketika usahamu diremehkan, kebaikanmu disalahartikan, dan kejujuranmu membuatmu berjalan sendirian. Jangan takut. Pohon yang kokoh pun pernah menjadi benih kecil yang terkubur dalam gelap. Ia tidak memaki tanah yang menutupinya, sebab ia tahu kegelapan adalah ruang untuk menumbuhkan akar.
Jika suatu hari kau gagal, jangan merasa hidupmu telah selesai. Kegagalan hanyalah koma, bukan titik. Bangkitlah perlahan, periksa langkahmu, lalu berjalanlah kembali. Jangan membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Matahari dan bulan memiliki waktu masing-masing untuk bersinar, tetapi keduanya tetap dibutuhkan dunia.
Bapak mungkin tidak selalu berada di sampingmu. Suatu hari suara bapak hanya akan tinggal dalam ingatan, nasihat ini menjadi barisan kata, dan kursi di rumah kita mungkin kehilangan pemiliknya. Namun percayalah, doa bapak akan tetap mengikuti langkahmu. Ia seperti angin: tidak terlihat, tetapi diam-diam menyentuh dan menguatkanmu.
Harapan bapak sederhana. Semoga hidupmu lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berhasil daripada kehidupan yang bapak jalani. Namun keberhasilan itu bukan sekadar tentang tingginya jabatan atau banyaknya kekayaan. Bapak ingin kau berhasil menjaga nurani ketika dunia menawarkan harga untuk membelinya. Bapak ingin kau tetap menjadi manusia ketika banyak orang berlomba menjadi penguasa.
Cintailah Indonesia bukan hanya dengan mengibarkan bendera, tetapi dengan menjaga kejujuran. Bela negeri ini bukan hanya dengan kata-kata lantang, tetapi dengan pekerjaan yang benar. Hormatilah pahlawan bukan sekadar melalui upacara, tetapi dengan tidak menjual kemerdekaan kepada keserakahan.
Jika kelak kau menjadi pemimpin, jangan biarkan kursi membuatmu lupa berdiri bersama rakyat. Jika menjadi guru, nyalakanlah harapan dalam diri murid-muridmu. Jika menjadi pedagang, jangan menipu timbangan. Jika menjadi orang biasa, tetaplah berbuat luar biasa melalui kejujuran dan kepedulian.
Sebab negeri yang besar tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar. Ia dibangun oleh jutaan manusia sederhana yang memilih tetap baik meskipun memiliki kesempatan untuk berbuat curang.
Maka berjalanlah, Nak. Bawalah ilmu sebagai pelita, iman sebagai kompas, dan kasih sayang sebagai bekal. Jangan warisi luka bangsa ini. Sembuhkanlah. Jangan ulangi kesalahan generasi sebelumnya. Belajarlah darinya.
Dan jika suatu hari dunia bertanya apa yang telah kau lakukan untuk Indonesia, semoga kau tidak perlu menjawab dengan pidato. Biarkan kejujuran, karya, dan kebaikanmu yang berbicara.










